KONDISI GEOLOGIS, TANAH DAN AKTIFITAS PERTANIAN DI KAWASAN BANDUNG UTARA
Oleh: Darsono, S.Pd*)
ABSTRAK
Semua jenis tumbuhan di muka bumi akan membutuhkan unsur hara untuk melakukan pertumbuhan dan perkembangannya dengan baik. Unsur hara tersebut ada yang bersifat makro dan ada pula yang bersifat mikro. Unsur hara makro yaitu unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah besar atau banyak, seperti halnya unsur C, H, O, N, P, K, Ca, Mg, dan S. Unsur hara mikro yaitu unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah sedikit seperti halnya Fe, Mn, B, Mo, Cu, Zn, Cl, dan Co. Unsur hara tersebut dapat di peroleh dari batuan yang telah lapuk atau yang disebut dengan tanah. Jenis dan banyaknya kandungan unsur hara setiap batuan tidaklah sama, hal ini tergantung kepada jenis bahan induknya yaitu batuan. Aktivitas pertanian di suatu tempat akan dipengaruhi oleh keadan lingkungan di sekitarnya seperti kondisi iklim, pengairan, batuan sebagai bahan baku pembentuk tanah, morfologi tempat, flora dan fauna, serta pengaruh manusia itu sendiri.
*) Darsono, S.Pd adalah Guru Mata Pelajaran Geografi di SMA Laboratorium Percontohan-UPI Bandung
1. Pendahuluan
Dalam dunia tanaman dan pertanian, ketergantungan terhadap alam sekitar merupakan suatu hal yang biasa. Unsur hara tanaman, air hujan, letak, ketinggian, serta sinar matahari merupakan komponen alam yang mutlak diperlukan dalam sistem budidaya pertanian. Unsur hara merupakan faktor penunjang dari proses sintesa yang terdapat dalam tanah yang disebut prosers fotosintesis. Banyaknya unsur hara yang diperlukan tanaman tidaklah sama, hal ini tergantung kepada jenis tanaman yang diusahakan. Apabila unsur hara dibutuhkan tanaman dalam jumlah banyak disebut unsur hara makro dan jika unsur hara sedikit dibutuhkan tanaman disebut unsur mikro. Semua unsur tersebut berasal dari hancuran bahan induk tanah yaitu batuan yang telah lapuk.
Kawasan Bandung Utara merupakan kawasan yang subur, hal ini diakibatkan oleh adanya aktifitas gunung api. Dengan meletusnya gunung Tangkuban Parahu pada waktu silam, mengakibatkan daerah ini kaya akan unsur hara yang diperlukan tanaman. Jenis tanah yang terbentuk adalah tanah tufa vulkanik yang berasal dari aktivitas letusan tadi. Dengan kesuburan yang dimiliki oleh tanah, para petani banyak yang terlena akan kesuburannya sehingga aktivitas pertanian di kawasan ini terus berkembang.
2. Batuan Sebagai Indikator Kesuburan Tanah
Beberapa unsur hara makro maupun mikro akan dilepaskan oleh batuan melalui proses pelapukan. Kecepatan pelepasan unsur hara dari batuan tergantung pada intensitas faktor-faktor yang mempengaruhi pelapukan, misalnya: suhu, curah hujan, kelembaban dan organisme yang ada di atasnya.
Dengan mengetahui sifat dan ciri setiap batuan atau mineral di lapangan maka dapat mudah menduga kandungan unsur hara yang dikandung oleh tanah tersebut. Bagi unsur hara yang tidak tesedia dalam tanah akan tetapi dibutuhkan oleh tanaman manusia dapat menambahnya melalui pemupukan. Mengingat pentingnya mineral dalam menunjang sistem kehidupan, maka pengetahuan tentang batuan atau mineral sangat penting untuk dipelajari.
Unsur hara yang terdapat dalam tanah tergantung dari batuan sebagai bahan induk tanah, faktor-faktor yang dapat menentukan kaya/miskinnya unsur hara yaitu:
-Jenis pembentukannya
-Letak geografis,
-Komposisi atau susunan batuan,
-Sifat fisik
-Kecepatan pelapukan
3. Peranan Gunung Tangkuban Parahu
Gunung Tangkuban Parahu merupakan salah satu faktor kawasan Bandung Utara memiliki jenis tanah yang subur. Secara administratif, sebagian gunung ini termasuk wilayah Kabupaten Bandung dan sebagian lagi termasuk Kabupaten Subang. Letak Geografisnya yaitu 6º 46′ LS dan 107º 36′ BT, dengan ketinggian 2084 m dpl. atau 1300 m diatas dataran Bandung. Tangkuban Parahu merupakan tipe gunung api strato dengan kawah ganda, dan sampai sekarang gunung ini terus melakukan aktifitasnya secara normal dengan menghembuskan gas vulkaniknya. Dengan adanya aktifitas vilkanisme tersebut, kawasan disekitar gunung ini menjadi subur.
4. Pertanian Sebagai Respon Terhadap Alam
Dengan tersedianya unsur hara yang terdapat dalam tanah, maka sudah dipastikan berbagai jenis tanaman dapat tumbuh dengan baik. Begitu pula dengan keadaan tanah di Kawasan Bandung Utara. Kawasan cocok sekali untuk dikembangkan pertanian seperti halnya telah dilakukan oleh masyarakat sekarang ini.
Pada dasarnya sistem pertanian mempunyai dua implikasi mendasar, yaitu:
- Sistem pertanian yang berdasar pada penyesuaian dengan kondisi alam yang telah ada, termasuk kesuburannya.
- Sistem pertanian yang berasas pada perubahan kondisi alam sekitar.
Prinsip pertama menitikberatkan pada kemampuan alam, sedangkan prinsip kedua cenderung memerlukan aktifitas manusia untuk merubah kondisi alam.
Pertanian yang ada di kawasan Bandung Utara, termasuk pada sistem pertanian berdasar pada penyesuaian dengan kondisi alam sekitar yang telah ada. Masyarakat tidak memerlukan banyak tenaga atau biaya untuk merubah kondisi alam untuk menyuburkan tanah, karena telah disediakan alam yaitu hasil letusan gunung Tangkuban Parahu. Kondisi ini didukung pula oleh kondisi lainnya seperti curah hujan, iklim lokal, suhu, ketinggian, dan morfologi lahan.
Jenis tanah yang terdapat di daerah sekitar gunung Tangkuban Parahu termasuk pada klasifikasi kemampuan lahan Kelas I – Kelas III. Tanah kelas ini sesuai untuk segala jenis penggunaan pertanian, tanpa memerlukan tindakan pengawetan dan pengolahan tanah yang khusus. Morfologi datar, horizon tanah cukup dalam atau tebal, bertekstur agak halus atau sedang, drainase baik, mudah diolah dan responsip terhadap pemupukan. Tanah kelas ini tidak mempunyai penghambat atau ancaman kerusakan serius, sehingga dapat digarap untuk usaha pertanian dengan jenis tanaman musiman. Tindakan pemupukan merupakan usaha yang baik untuk menjaga kesuburan tanah pada kelas ini.
5. Aktifitas Gunung Tangkuban Parahu, Jenis Batuan, Tanah dan Tanaman
Seperti kita ketahui bahwa sistem budidaya pertanian pada umumnya selalu menggantungkan kepada jenis dan kesuburan tanah, dimana tanah tersebut merupakan salah satu benda yang berasal dari batuan yang terbentuk sebagai akibat proses geologis.
Ketika gunung Tangkuban Parahu meletus maka akan mengeluarkan material-material yang dapat menyuburkan tanah. Bahan mineral yang terkandung dalam batuan akan melapuk membentuk tanah. Susunan mineral tanah akan berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya, hal ini dikarenakan susunan mineral batuan yang dilapukkannya berbeda pula.
Mineral yang berasal dari batuan yang dilapuk dinamakan mineral primer. Sedangkan mineral hasil bentukan baru yang terbentuk selama proses pembentukan tanah berlangsung disebut mineral skunder.
Beberapa jenis mineral sekunder (mineral liat) yang sering ditemukan dalam tanah antara lain kaolinit, haloisit, montmorilonit, gibsit (Al Oksida), Fe oksida dan lain-lain. Sedangkan jenis mineral primer diantaranya sebagai berikut: Kwarsa, Kalsit, Dolomit, Feldsfar (Ortoklas, Plagioklas), Mika (Muskovit, Biotit), Amfibole (hornblende), Piroksin (hiperstin, augit), Olivin, Leusit, Apatit.
Dengan banyaknya mineral yang terkandung dalam tanah, berbagai jenis tanaman akan dapat tumbuh dengan baik. Khususnya di kawasan Bandung Utara, jenis tanaman yang dibudidayakan sangat beragam. Mulai dari pertanian lahan kering seperti sayuran, palawija, tanaman hias dan lainnya. Serta ada pula pertanian lahan kering seperti sawah. Dari segi jenisnya, tanaman yang dapat tumbuh dengan baik sangat beragam pula dari mulai tanaman penghasil sayuran, makanan pokok, buah-buahan, tanaman hias, obat-obatan hingga tanaman perkebunan seperti teh dan kina.
6. Kesimpulan
- Jenis dan kesuburan tanah sangat tergantung pada batuan sebagai bahan induk pembentuk tanah.
- Tanah di kawasan Bandung Utara sangat kaya bahan mineral, hal ini berkaitan dengan aktivitas gunung Tangkuban Parahu.
- Selain akibat adanya aktifitas Tangkuban Parahu, hal lain yang menyebabkan daerah bandung cocok sebagai lahan pertanian adalah faktor pendukungnya lainnya seperti: posisi atau letak, ketinggian, iklim lokal, suhu, curah hujan dan morfologi tempat.
- Tanah yang terdapat di kawasan Bandung Utara termasuk tanah kelas I, kelas II dan kelas III dan tergolong jenis tanah baik dan cocok untuk kegiatan budidaya pertanian dengan faktor penghambat sangat sedikit.
Daftar Pustaka
Hardjowigeno, Sarwono, Prof., Dr., Ir., H., M.Sc., 2003. Ilmu Tanah. Jakarta: Akademika Pressindo.
Munir, Mochammad, Dr., Ir., H., MS., 1995. Geologi dan Mineralogi Tanah. Jakarta: Pustaka Jaya.
Buletin Rotasi, 2004. Gunung Tangkuban Parahu. Bandung: BEM Geografi.
Trisnasomantri, Akub., Dr., M.Pd., 1999. Geomorfologi Umum dan Geologi Umum. Bandung: FPIPS-IKIP
NB. Apabila ada kesalahan atau kekeliruan dalam penulisan, silahkan beri tanggapan dan komentar. Thnks!