Adonliebzcool's

Education 4 Save Our Earth

  • Kalender

    Februari 2010
    S S R K J S M
    « Mei    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
  • Pencarian Terbanyak

  • Komentar

  • Bumi Ku Pijak Bumiku Malang

    Aku.... Aku diam dan berpijak di atas sebuah bola yang melayang terapung di angkasa. Akupun membangun sebuah rumah nan mungil dan sederhana di atas sebuah bola yang terapung tadi. Kemudian, akupun menggunakannya untuk bercocok tanam sebagai jalan menghidupi aku dan keluargaku. Hanya untuk itu, tak kurang dan tak lebih. Alangkah indahnya bumi ini.... Mereka....Si Serakah itu pun sama-sama berdiam dan berdiri di atas sebuah bulatan yang melayang terapung di angkasa. Merekapun membangun gedung-gedung pencakar langit nan kokoh dan padat. Kemudian, dengan keserakahannya mereka pun mengambil dan merusak segala yang ada di atasnya. Terus, terus dan terus. Tanpa henti, tanpa sesal, tanpa iba, dan tanpa perasaan. Ah... Alangkah malangnya bumiku. Terpuruk dan akan semakin terpuruk. Akan tetapi bimiku hanya daim diri dan berbisik "tunggulah kehancuran mereka, akibat perbuatan mereka sendiri".

BUMI INI UNTUK SIAPA

Ditulis oleh Adon Darsono di/pada 27 Mei 2009

Pagi sekali aku bangun (padahal waktu itu baru pukul 06.30 pagi hari loh), suasana masih sepi dan terasa dingin. Lalu aku tengok ke luar kamar kost suasana masih gelap (karena mendung mo ujan kayaknya tuh). Tanpa basa dan basi dan tanpa bicara (karena kala itu masih sendiri, kalo sekarang udag sama istri) langsung saja ku ambil remot televisi. Klik !. Tak lama kemudian muncul Si Mbak yang lumayan cakep membacakan berita mengenai bencana longsor dan banjir bandang.

Dengan gaya seperti seorang pembawa berita televisi (emang pembawa berita), Si Mbak yang berada di dalam TV tersebut mengatakan bahwa longsor dan banjir bandang tersebut terjadi karena ulah manusia itu sendiri. Penyebabnya yaitu hutan di bagian hulu di tebangi sehingga menjadi gundul. Akibatnya ketika musim hujan datang tanah tidak kuat lagi menahan desakan dan beban air hujan sehingga terjadilah longsor. Air hujan dengan debit yang besar akan membawa material-material yang berasal dari longsoran tadi menuju ke daerah hilir yang rebih rendah. Terjadilah banjir bandang. Lebih parah lagi apabila banjir tersebut melewati pemukiman penduduk.

Dengan pose masih berada di bawah selimut, otakku melayang dan bertanya-tanya. Sebenarnya apa dan siapa seeh penyebab utama dari terjadinya bencana dan kerusakan alam tersebut? Kok bisa ya seperti itu? Kemudian dalam benakku bertanya: sebenarnya bumi ini untuk siapa seeh…?

Nah, sekarang aku mulai serius dengan masalah tersebut dan berfikir mengingat-ingat sesuatu ketika kuliah dulu. Sebagai seorang geograf (arti geograf versi saya sendiri= orang yang mempelajari geografi, bukan berarti ahli geografi, karena saya belum ahli dalam ilmu geografi atau dengan kata lain masih belajar) aku teringat pelajaran saat kuliah dulu. Ternyata dalam ilmu geografi, pertanyaan seperti di atas dapat di kaji dengan pertanyaan geografi, sebagai berikut:

1. What (apa)

2. Where (dimana)

3. When (kapan)

4. Why (mengapa)

5. Whom (siapa)

6. To How (bagaimana)

Ternyata, semua pertanyaan di atas jawabannya menuju kepada diri saya sendiri, kepada kita. Jadi pertanyaan bumi ini untuk siapa, (stop teks berikut bacanya pake gaya pembawa acara salah satu kuis musik di televisi swasta ya) jaaawaaabannyaaa….. adalaaah….. untuk Si Manusia itu sendiri.

Coba kita tengok bersama-sama. Mahluk hidup yang paling dominan di muka bumi adalah Si Manusia. Si hewan, si tumbuhan, sang batuan, om air, mpok tanah dan seluruh yang ada di bumi semuanya mengerucut kepada Si Manusia. Si Manusia lah yang paling dominan menggunakan dan memanfaatkannya.

Selesaikah masalah sampai di sana? Ternyata belum juga. Akhirnya muncul pertanyaan lain. Kenapa manusia malahan merusak alam seperti apa yang diberitakan oleh Pak Televisi di atas?

Nah pertanyaan ini ternyata agak sulit juga untuk di jawab. Menurutku jawabannya perlu dilihat dari berbagai aspek, seperti sosial, ekonomi, pendidikan, lingkungan dll. So…, jawabannya di pending dulu yah. Mo cari infownya.

Terima kasih.

Ditulis dalam Artikel Lingkungan | Bertanda: | Leave a Comment »

Erosi Tanah

Ditulis oleh Adon Darsono di/pada 19 Mei 2009

KONSEP EROSI

Kondisi lahan diatas dapat mempercepat proses erosi (Lokasi: Kec. Patean, Kab. Kendal, Jawa Tengah)

Kondisi lahan diatas dapat mempercepat proses erosi (Lokasi: Kec. Patean, Kab. Kendal, Jawa Tengah)

Erosi adalah pengikisan, yaitu proses pemindahan material batuan oleh tenaga air dari satu tempat ke tempat lain. Erosi adalah suatu proses dimana tanah dihancurkan (detached) dan kemudian dipindahkan ke tempat lain oleh kekuatan air, angin atau gravitasi.

Erosi biasanya terjadi pada lahan yang memiliki tutupan lahan jelek, dimana air hujan dengan mudah akan menghancurkan mintakat (agregat/struktur)  tanah. Hasil hancuran tersebut akan menutupi pori-pori tanah, kemudian terjadi aliran permukaan (run off) yang akan membawa material tanah dan diendapkan di tempat yang lebih rendah. Jenis-jenis erosi menurut bentuknya yaitu erosi permukaan, erosi parit, dan erosi jurang. Erosi permukaan dapat dibagi menjadi erosi percik, erosi lembar, dan erosi alur. Menurut genesisnya, erosi dibagi menjadi erosi geologis dan erosi dipercepat. Sedangkan menurut pergerakannya erosi dbagi menjadi erosi vertikal dan erosi horizontal. Akibat terjadinya erosi tidak hanya menyebabkan kerusakan tanah di tempat terjadinya erosi, tetapi juga kerusakan-kerusakan di tempat lain dimana hasil-hasil erosi tersebut diendapkan.

Besar kecilnya bahaya erosi sangat dipengeruhi oleh berbagai faktor, diantaranya iklim sebagai penentu besar dan lama curah hujan, kondisi tanah yang terdiri dari tekstur dan  struktur, topografi terdiri dari panjang dan kemiringan lereng, aspek vegetasi berperan sebagai penutup lahan, dan tindakan manusia yang berperan dalam tindakan konservasi. Erosi dapat menghasilkan proses sedimentasi, yaitu proses pengendapan hasil erosi. Bentukan baru pada daerah yang lebih rendah disebut sedimen. Lahan yang telah mengalami erosi berat atau akan berubah menjadi lahan kritis dan  pemulihannya  sangat sulit sekali dilakukan, arena memerlikan waktu dan proses yang cukup lama.

By: Darsono, S.Pd

Ditulis dalam Artikel Lingkungan | Bertanda: | Leave a Comment »

CTL

Ditulis oleh Adon Darsono di/pada 19 Mei 2009

HAKIKAT PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL (CONTEXTUAL TECHING AND LEARNING = CTL)

Belajar kelompok merupakan salah satu komponen dalam CTL

Belajar kelompok merupakan salah satu komponen dalam CTL

Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

CTL melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif yaitu: konstruktivisme, bertanya, menemukan, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi  dan penilaian sebenarnya.

Perbedaan Pendekatan CTL dengan Pendekatan Tradisional:

No.

Pendekatan CTL Pendekatan Tradisional
1. Siswa secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran Siswa adalah penerima informasi  secara pasif
2. Siswa belajar dari teman melalui kerja kelompok, diskusi, saling mengoreksi Siswa belajar secara individual
3. Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata dan atau masalah yang di simulasikan. Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis
4. Perilaku dibangun atas kesadaran diri Perilaku dibangun atas kebiasaan
5. Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan
6. Hadiah untuk perilaku baik adalah kepuasan diri Hadiah untuk perilaku baik adalah pujian atau nilai (angka) rapor
7. Seseorang tidak melakukan yang jelek karena dia sadar hal itu keliru dan merugikan Seseorang tidak melakukan yang jelek karena dia takut hukuman
8. Bahasa diajarkan dengan pendekatan komunikatif, yakni siswa diajak menggunakan bahasa dalam konteks nyata Bahasa diajarkan dengan pendekatan struktural: rumus diterangkan sampai paham, kemudian dilatihkan (drill)
9. Pemahaman rumus dikembangkan atas dasar skemata yang sudah ada dalam diri siswa Rumus itu ada di luar diri siswa, yang harus diterangkan, diterima, dihafalkan, dan dilatihkan
10. Pemahaman rumus itu relatif berbeda antara siswa yang satu dengan siswa yang lainnya, sesuai dengan skemata siswa (ongoing process of development) Rumus adalah kebenaran absolut (sama untuksemua orang). Hanya ada dua kemungkinan, yaitu pemahaman rumus yang salah atau pemahaman rumus yang benar
11. Siswa menggunakan kemampuan berpikir kritis, terlibat penuh dalam mengupayakan terjadinya proses pembelajaran yang efektif, ikut bertanggung jawab atas terjadinya proses pembelajaran yang efektif, dan membawa skemata masing-masing ke dalam proses pembelajaran Siswa secara pasif menerima rumus atau kaidah (membaca, mendengarkan, mencatat, menghafal), tanpa memberikan kontribusi ide dalam proses pembelajaran
12. Pengetahuan yang dimiliki manusia dikembangkan oleh manusia itu sendiri. Manusia menciptakan atau membangun pengetahuan dengan cara memberi arti dan memahami pengalamannya Pengetahuan adalah penangkapan terhadap serangkaian fakta, konsep, atau hukum yang berada di luar diri manusia
13. Karena pengetahuan itu dikembangkan (dikonstruksi) oleh manusia sendiri, sementara manusia selalu mengalami peristiwa baru, maka pengetahuan itu tidak pernah stabil, selalu berkembang (tentative & incomplete) Kebenaran bersifat absolut dan pengetahuan bersifat final
14. Siswa diminta bertanggungjawab meminitor dan mengembangkan pembelajaran mereka masing-masing uru adalah penentu jalannya proses pembelajaran
5. Penghargaan terhadap pengalaman siswa sanat diutamakan Pembelajaran tidak memperhatikan pengalaman siswa
16. Hasil belajar diukur dengan berbagai cara: proses bekerja, hasil karya, penampilan, rekaman, tes, dll Hasil belajar diukur hanya dengan tes
17. Pembelajaran terjadi di berbagai tempat, konteks, dan setting Pembelajaran hanya terjadi dalam kelas
18. Penyesalan adalah hukuman dari perilaku jelek Sanksi adalah hukuman dari perilaku jelek
19. Perilaku baik berdasar motivasi intrinsik Perilaku baik berdasar motivasi ekstrinsik
20. Seseorang berperilaku baik karena dia yakin itulah yang terbaik dan bermanfaat Seseorang berperilaku baik karena dia terbiasa melakukan begitu. Kebiasaan ini dibangun dengan hadiah yang menyenangkan

Semoga bermanfaat !

Sumber: Buku CTL

Dikutip Oleh: Darsono, S.Pd

Ditulis dalam Pendidikan | Bertanda: | Leave a Comment »

Sampah

Ditulis oleh Adon Darsono di/pada 19 Mei 2009

BUDAYA BUANG SAMPAH SEMBARANGAN: SIMBOL URBANISASI TANPA URBANISME DAN URBANISME TANPA URBANISASI

Bagi para ahli demografi, ekonomi, geografi serta bidang kemasyarakatan lainnya pembagian lingkungan masyarakat menjadi lingkungan desa dan lingkungan kota tampaknya penting sekali artinya. Secara historis, maka sebenarnya kota timbul belakangan setelah terbentuknya suatu desa terlebih dahulu.

Kelurahan dapat dikatakan sebagai sebuah region formal, yang berada di wilayah administratif atau merupakan bagian dari Kota, sedangkan perbedaannya dengan desa adalah desa berada atau merupakan bagian dari sebuah Kabupaten. Kelurahan Isola merupakan bagian dari Kota Bandung yang telah mengalami perkembangan dengan cepat, hingga sekarang ini perkembangan tersebut telah menarik perhatian bagi para pendatang untuk berdomisili di sini. Tujuan masyarakat pendatang beragam, ada yang bertujuan mencari pekerjaan maupun pendidikan. Perkembangan Kelurahan Isola tidak lepas dari adanya pusat-pusat pendidikan seperti Kampus Universitas Pendidikan Indonesia,  Yayasan Pondok Pesantren Daarut Tauhid Bandung serta pusat-pusat lembaga pendidikan dan pekerjaan lainnya.

Konsekuensi yang harus di terima dari adanya pusat-pusat lembaga pendidikan serta lembaga pekerjaan lainnya adalah banyaknya para pendatang yang berasal dari berbagai daerah dan dengan beragam budayanya. Hal ini mengakibatkan timbul istilah urbanisasi tanpa urbanisme atau perpindahan fisik penduduk tanpa diikuti perubahan perilakunya. Istilah ini bermakna bahwa penduduk pendatang yang berasal dari berbagai daerah dengan ragam budayanya, melakukan urbanisasi ke daerah ini akan tetapi tidak diikuti oleh perpindahan budayanya atau perilakunya atau gaya hidup yang menunjukan sebagai seorang yang menjadi warga kota.

Sejerah perkembangan Kelurahan Isola tidak terlepas dari sejarah perkembangan masyarakat tradisional. Sebelum perkembangan sampai seperti sekarang ini, masyarakat kawasan ini merupakan kumpulan masyarakat desa yang mengandalkan mata pencahariannya dari bertani. Dengan memiliki budaya dan gaya hidup  yang menunjukan kebiasaan masyarakat desa pada umumnya. Namun perkembangan selanjutnya dengan munculnya berbagai pembangunan serta munculnya beragam fasilitas hidup memaksa masyarakat harus melakukan urbanisme tanpa urbanisasi atau perilaku/gaya hidup harus seperti orang kota tanpa perpindahan fisik masyarakat atau dengan kata lain masyarakat asli tersebut tidak melakukan urbanisasi, akan tetapi hanya melakukan perpindahan gaya hidup atau perubahan kebiasaan dari masyarakat pedesaan ke masyarakat perkotaan.

Keadaan diatas baik itu istilah urbanisasi tanpa urbanisme maupun istilah urbanisme tanpa urbanisasi menjadikan ketidakteraturan atau ketidakharmonisan antara budaya yang seharusnya dimiliki oleh orang kota dengan kebiasaan-kebiasaan masyarakatnya. Akibatnya budaya lama baik itu budaya para pendatang maupun budaya masyarakat asli/lokal menjadikan perilaku dalam kesehariannya pun tetap pada perilaku atau  kebiasaan lama seperti salah satunya adalah membuang sampah sembarangan.

Oleh: Darsono, S.Pd

Ditulis dalam Sosial Budaya | Bertanda: | Leave a Comment »

Geologis Bandung Utara

Ditulis oleh Adon Darsono di/pada 19 Mei 2009

KONDISI GEOLOGIS, TANAH DAN AKTIFITAS PERTANIAN DI KAWASAN BANDUNG UTARA

Oleh: Darsono, S.Pd*)

ABSTRAK

Semua jenis tumbuhan di muka bumi akan membutuhkan unsur hara untuk melakukan pertumbuhan dan perkembangannya dengan baik. Unsur hara tersebut ada yang bersifat makro dan ada pula yang bersifat mikro. Unsur hara makro yaitu unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah besar atau banyak, seperti halnya unsur C, H, O, N, P, K, Ca, Mg, dan S. Unsur hara mikro yaitu unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah sedikit seperti halnya Fe, Mn, B, Mo, Cu, Zn, Cl, dan Co. Unsur hara tersebut dapat di peroleh dari batuan yang telah lapuk atau yang disebut dengan tanah. Jenis dan banyaknya kandungan unsur hara setiap batuan tidaklah sama, hal ini tergantung kepada jenis bahan induknya yaitu batuan. Aktivitas pertanian di suatu tempat akan dipengaruhi oleh keadan lingkungan di sekitarnya seperti kondisi iklim, pengairan, batuan sebagai bahan baku pembentuk tanah, morfologi tempat, flora dan fauna, serta pengaruh manusia itu sendiri.

*) Darsono, S.Pd adalah Guru Mata Pelajaran Geografi di SMA Laboratorium Percontohan-UPI Bandung

1. Pendahuluan

Dalam dunia tanaman dan pertanian, ketergantungan terhadap alam sekitar merupakan suatu hal yang biasa. Unsur hara tanaman, air hujan, letak, ketinggian, serta sinar matahari merupakan komponen alam yang mutlak diperlukan dalam sistem budidaya pertanian. Unsur hara merupakan faktor penunjang dari proses sintesa yang terdapat dalam tanah yang disebut prosers fotosintesis. Banyaknya unsur hara yang diperlukan tanaman tidaklah sama, hal ini tergantung kepada jenis tanaman yang diusahakan. Apabila unsur hara dibutuhkan tanaman dalam jumlah banyak disebut unsur hara makro dan jika unsur hara sedikit dibutuhkan tanaman disebut unsur mikro. Semua unsur tersebut berasal dari hancuran bahan induk tanah yaitu batuan yang telah lapuk.

Kawasan Bandung Utara merupakan kawasan  yang subur, hal ini diakibatkan oleh adanya aktifitas gunung api. Dengan meletusnya gunung Tangkuban Parahu pada waktu silam, mengakibatkan daerah ini kaya akan unsur hara yang diperlukan tanaman. Jenis tanah yang terbentuk adalah tanah tufa vulkanik yang berasal dari aktivitas letusan tadi. Dengan kesuburan yang dimiliki oleh tanah, para petani banyak yang terlena akan kesuburannya sehingga aktivitas pertanian di kawasan ini terus berkembang.

2. Batuan Sebagai Indikator Kesuburan Tanah

Beberapa unsur hara makro maupun mikro akan dilepaskan oleh batuan melalui proses pelapukan. Kecepatan pelepasan unsur hara dari batuan tergantung pada intensitas faktor-faktor yang mempengaruhi pelapukan, misalnya: suhu, curah hujan, kelembaban dan organisme yang ada di atasnya.

Dengan mengetahui sifat dan ciri setiap batuan atau mineral di lapangan maka dapat mudah menduga kandungan unsur hara yang dikandung oleh tanah tersebut. Bagi unsur hara yang tidak tesedia dalam tanah akan tetapi dibutuhkan oleh tanaman manusia dapat menambahnya melalui pemupukan. Mengingat pentingnya mineral dalam menunjang sistem kehidupan, maka pengetahuan tentang batuan atau mineral sangat penting untuk dipelajari.

Unsur hara yang terdapat dalam tanah tergantung dari batuan sebagai bahan induk tanah, faktor-faktor yang dapat menentukan kaya/miskinnya unsur hara yaitu:

-Jenis pembentukannya

-Letak geografis,

-Komposisi atau susunan batuan,

-Sifat fisik

-Kecepatan pelapukan

3. Peranan Gunung Tangkuban Parahu

Gunung Tangkuban Parahu merupakan salah satu faktor kawasan Bandung Utara memiliki jenis tanah yang subur. Secara administratif, sebagian gunung ini termasuk wilayah Kabupaten Bandung dan sebagian lagi termasuk Kabupaten Subang. Letak Geografisnya yaitu 6º 46′ LS dan 107º 36′ BT, dengan ketinggian 2084 m dpl. atau 1300 m diatas dataran Bandung. Tangkuban Parahu merupakan tipe gunung api strato dengan kawah ganda, dan sampai sekarang gunung ini terus melakukan aktifitasnya secara normal dengan menghembuskan gas vulkaniknya. Dengan adanya aktifitas vilkanisme tersebut, kawasan disekitar gunung ini menjadi subur.

4. Pertanian  Sebagai Respon Terhadap Alam

Dengan tersedianya unsur hara yang terdapat dalam tanah, maka sudah dipastikan berbagai jenis tanaman dapat tumbuh dengan baik. Begitu pula dengan keadaan tanah di Kawasan Bandung Utara.  Kawasan cocok sekali untuk dikembangkan pertanian seperti halnya telah dilakukan oleh masyarakat sekarang ini.

Pada dasarnya sistem pertanian mempunyai dua implikasi mendasar, yaitu:

  1. Sistem pertanian yang berdasar pada penyesuaian dengan kondisi alam yang telah ada, termasuk kesuburannya.
  2. Sistem pertanian yang berasas pada perubahan kondisi alam sekitar.

Prinsip pertama menitikberatkan pada kemampuan alam, sedangkan prinsip kedua cenderung memerlukan aktifitas manusia untuk merubah kondisi alam.

Pertanian yang ada di kawasan Bandung Utara, termasuk pada sistem pertanian berdasar pada penyesuaian dengan kondisi alam sekitar yang telah ada. Masyarakat tidak memerlukan banyak tenaga atau biaya untuk merubah kondisi alam untuk menyuburkan tanah, karena telah disediakan alam yaitu hasil letusan gunung Tangkuban Parahu. Kondisi ini didukung pula oleh kondisi lainnya seperti curah hujan, iklim lokal, suhu, ketinggian, dan morfologi lahan.

Jenis tanah yang terdapat di daerah sekitar gunung Tangkuban Parahu termasuk pada klasifikasi kemampuan lahan Kelas I – Kelas III. Tanah kelas ini sesuai untuk segala jenis penggunaan pertanian, tanpa memerlukan tindakan pengawetan dan pengolahan tanah yang khusus.  Morfologi datar, horizon tanah cukup dalam atau tebal, bertekstur agak halus atau sedang, drainase baik, mudah diolah dan responsip terhadap pemupukan. Tanah kelas ini tidak mempunyai penghambat atau ancaman kerusakan serius, sehingga dapat digarap untuk usaha pertanian dengan jenis  tanaman musiman. Tindakan pemupukan merupakan usaha yang baik untuk menjaga kesuburan tanah pada kelas ini.

5. Aktifitas Gunung Tangkuban Parahu, Jenis Batuan, Tanah dan Tanaman

Seperti kita ketahui bahwa sistem budidaya pertanian pada umumnya selalu menggantungkan kepada jenis dan kesuburan tanah, dimana tanah tersebut merupakan salah satu benda yang berasal dari batuan yang terbentuk sebagai akibat proses geologis.

Ketika gunung Tangkuban Parahu meletus maka akan mengeluarkan material-material yang dapat menyuburkan tanah. Bahan mineral yang terkandung dalam batuan akan melapuk membentuk tanah. Susunan mineral tanah akan berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya, hal ini dikarenakan susunan mineral batuan yang dilapukkannya berbeda pula.

Mineral yang berasal dari batuan yang dilapuk dinamakan mineral primer. Sedangkan mineral hasil bentukan baru yang terbentuk selama proses pembentukan tanah berlangsung disebut mineral skunder.

Beberapa jenis mineral sekunder (mineral liat) yang sering ditemukan dalam tanah antara lain kaolinit, haloisit, montmorilonit, gibsit (Al Oksida), Fe oksida dan lain-lain. Sedangkan jenis mineral primer diantaranya sebagai berikut: Kwarsa, Kalsit, Dolomit, Feldsfar (Ortoklas, Plagioklas), Mika (Muskovit, Biotit), Amfibole (hornblende), Piroksin (hiperstin, augit), Olivin, Leusit, Apatit.

Dengan banyaknya mineral yang terkandung dalam tanah, berbagai jenis tanaman akan dapat tumbuh dengan baik. Khususnya di kawasan Bandung Utara, jenis tanaman yang dibudidayakan sangat beragam. Mulai dari pertanian lahan kering seperti sayuran, palawija, tanaman hias dan lainnya. Serta ada pula pertanian lahan kering seperti sawah. Dari segi jenisnya, tanaman yang dapat tumbuh dengan baik sangat beragam pula dari mulai tanaman penghasil sayuran, makanan pokok, buah-buahan, tanaman hias, obat-obatan hingga tanaman perkebunan seperti teh dan kina.

6. Kesimpulan

  1. Jenis dan kesuburan tanah sangat tergantung pada batuan sebagai bahan induk pembentuk tanah.
  2. Tanah di kawasan Bandung Utara sangat kaya bahan mineral, hal ini berkaitan dengan aktivitas gunung Tangkuban Parahu.
  3. Selain akibat adanya aktifitas Tangkuban Parahu, hal lain yang menyebabkan daerah bandung cocok sebagai lahan pertanian adalah faktor pendukungnya lainnya seperti: posisi atau letak, ketinggian, iklim lokal, suhu, curah hujan dan morfologi tempat.
  4. Tanah yang terdapat di kawasan Bandung Utara termasuk tanah kelas I, kelas II dan kelas III dan tergolong jenis tanah baik dan cocok untuk kegiatan budidaya pertanian dengan faktor penghambat sangat sedikit.

Daftar Pustaka

Hardjowigeno, Sarwono, Prof., Dr., Ir., H., M.Sc., 2003. Ilmu Tanah. Jakarta: Akademika Pressindo.

Munir, Mochammad, Dr., Ir., H., MS., 1995. Geologi dan Mineralogi Tanah. Jakarta: Pustaka Jaya.

Buletin Rotasi, 2004. Gunung Tangkuban Parahu. Bandung: BEM Geografi.

Trisnasomantri, Akub., Dr., M.Pd., 1999.  Geomorfologi Umum dan Geologi Umum. Bandung: FPIPS-IKIP

NB. Apabila ada kesalahan atau kekeliruan dalam penulisan, silahkan beri tanggapan dan komentar. Thnks!

Ditulis dalam Artikel Lingkungan | Bertanda: | Leave a Comment »